In this economy .......
Dulu, saya sangat senang belajar bahasa Inggris. Namun, ketika memasuki bangku kuliah dan mulai mendalami berbagai ilmu teknik, perhatian saya perlahan teralihkan. Saya lebih fokus pada bidang yang saya pelajari, sementara kemampuan bahasa Inggris yang dahulu saya sukai justru tidak berkembang.
Saya masih ingat ketika dosen merekomendasikan jurnal-jurnal internasional sebagai bahan referensi. Alih-alih berusaha memahami bahasa Inggris secara langsung, saya lebih sering mengandalkan Google Translate. Saat itu, rasanya sudah cukup. Yang terpenting, saya bisa memahami isi jurnal dan menyelesaikan tugas yang sedang dikerjakan.
Saya tidak menyangka bahwa beberapa tahun kemudian, kemampuan bahasa Inggris justru menjadi salah satu hal yang saya sesali karena tidak saya pelajari dengan lebih serius. 😢
Kini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu pesat. Teknologi ini tidak hanya mengubah cara kita belajar dan bekerja, tetapi juga menghadirkan peluang pekerjaan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan.
Salah satunya adalah AI annotator, yaitu pekerjaan yang berkaitan dengan pemberian label, pemeriksaan, atau penilaian data untuk membantu pengembangan sistem AI.
Saya pernah mencoba pekerjaan ini melalui sebuah proyek AI image annotation. Dalam waktu satu minggu, saya berhasil memperoleh 35 dolar AS. Bagi saya, pengalaman tersebut sangat menarik. Pekerjaannya dilakukan secara daring sehingga berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama, selama proyek tersedia dan waktu memungkinkan.
Sayangnya, proyek tersebut kini telah selesai. Pengalaman itu membuka mata saya bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang baru yang bisa dijelajahi dari mana saja, termasuk oleh mereka yang sudah memiliki pekerjaan utama.
Namun, ada hal lain yang saya sadari ketika mencoba menjajaki peluang pekerjaan AI lainnya: kemampuan bahasa Inggris saya masih terbatas.
Dalam beberapa proses seleksi pekerjaan AI annotator, saya harus menghadapi lawan wawancara berbasis AI yang menggunakan bahasa Inggris. Di sinilah saya menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris tingkat dasar belum cukup untuk berkomunikasi dengan lancar dalam situasi profesional.
Reliable, Consider, Ensure, Whether, Evidence, Approach, Deflect, Punctual, Constraint, Nevertheless, Dependable, Meticulous, Versatile, Distinguish, Determine, Conduct, dan Proactive.
Kata-kata tersebut merupakan beberapa kosakata yang muncul dalam proses wawancara. Saat itulah saya menyadari kenyataan yang cukup pahit: kemampuan bahasa Inggris saya masih sebatas percakapan sehari-hari, belum mencapai tingkat percakapan profesional (professional English conversation).
Saya bisa menggunakan AI untuk menerjemahkan teks, memahami instruksi, bahkan membantu mempelajari hal-hal baru. Akan tetapi, ketika harus menjelaskan pemikiran sendiri dan menjawab pertanyaan secara spontan dalam bahasa Inggris, saya menyadari bahwa masih banyak yang perlu dipelajari.
Ironisnya, teknologi yang membuka peluang baru itu sekaligus memperlihatkan keterampilan yang belum saya kuasai.
Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa belajar bahasa Inggris tetap penting di era AI. Bukan karena AI tidak mampu menerjemahkan bahasa, melainkan karena kemampuan berbahasa membantu kita mengakses pengetahuan, memahami informasi secara langsung, dan menjangkau peluang yang lebih luas.
Bagi dunia pendidikan, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa belajar bahasa Inggris seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya memperoleh nilai yang baik di sekolah. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal untuk membaca jurnal ilmiah, mengikuti perkembangan teknologi, berkomunikasi dengan masyarakat internasional, hingga menjajaki peluang pekerjaan yang mungkin belum ada saat ini.
AI dapat menjadi teman belajar yang membantu kita berlatih percakapan, memperbaiki tulisan, dan memahami materi yang sulit. Namun, teknologi itu akan jauh lebih bermanfaat jika disertai kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan diri.
Saya sendiri masih harus banyak belajar. Ada penyesalan karena dahulu tidak mengembangkan kemampuan bahasa Inggris hingga mencapai tingkat percakapan profesional. Namun, saya tidak ingin berhenti pada penyesalan tersebut.
Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu keterampilan apa yang akan menjadi penting beberapa tahun mendatang atau peluang apa yang akan datang berikutnya.
Mungkin kita tidak bisa mengulang kesempatan belajar di masa lalu, tetapi kita selalu bisa memulai kembali hari ini. Jangan sampai teknologi terus berkembang, sementara kita melewatkan kesempatan hanya karena ada keterampilan dasar yang tidak pernah kita kembangkan dengan sungguh-sungguh.
Asrori Zainur R
DISDIKBUD
Penulis artikel dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Paser
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar!